Ungkalan: Tikus, Barikan dan Krisis Ekologi (2 of 2)

Mbah Jumiran modin sepuh Ungkalan (Foto: Mohammad Ardiansyah) ​. 

 

Menyeimbangkan Yang Lahir dan Yang Batin

Barikan bagian dari ritual slametan. Strukturnya mirip dengan umumnya slametan di tempat lain di Jawa, khususnya di kawasan Mataraman. Sambutan yang panjang oleh tuan rumah, dalam hal ini Faisoli, lalu Mbah Jumiran sebagai modin sepuh untuk menyampaikan maksud diadakannya barikan yang di ujung-ujung kalimatnya dijawab hadirin dengan khidmat: “nggeh”, dalam tradisi Jawa disebut ujub. Setelah penyampaian ujub, selanjutnya adalah pembacaan doa dalam bahasa Arab. Lalu diakhiri dengan menyantap hidangan bersama.

 

Dalam ujub dan doa yang dibacakan Mbah Jumiran, selain permintaan kepada Allah dan berharap barokah-syafaat Nabi Muhammad SAW, berikutnya berharap barokah dari Nabi Sulaiman. Penyebutan Nabi Sulaiman ini menarik, mengingat sebenarnya tidak ada penyebutan terhadap Nabi Sulaiman dalam tradisi slametan pada umumnya, minimal di sepanjang ritual slametan yang pernah saya ikuti. Namun, Mbah Jumiran menjelaskan sendiri terkait penyebutan Nabi Sulaiman ini: “kenapa Nabi Sulaiman kita minta barokah dan kerelaannya (ridhonya)? Karena Nabi Sulaimanlah yang menguasai seluruh binatang di dunia ini. Karena itu, dengan berharap berkah dari Nabi Sulaiman, semoga tanaman kita terhindar dari serangan hama tikus,” Mbah Jumiran menegaskan.

 

Setelah penyebutan Nabi Sulaiman yang dikenal dalam tradisi Islam dan agama-agama Semit lainnya, Mbah Jumiran juga menyebut Dadung Awuk untuk dimintai barokahnya. Dijelaskan pula siapa Dadung Awuk, ialah yang bertugas menggembala semua binatang di hutan maupun binatang ternak di rumah. Di sini kita menjumpai tokoh Hindu Jawa yang terutama dikenal dalam dunia pewayangan. Dia digambarkan sebagai raksasa kerdil anak buah Bathari Durga, raja makhluk siluman yang bertakhta di Kahyangan Setragandamayit. Dadung Awuk tinggal di hutan Krendayana, bertugas menggembalakan kerbau milik Bathari Durga. Dengan barokah dari Dadung Awuk sang pawang, Mbah Jumiran berharap tanaman pertanian khususnya di Petak 13 dan 17 terhindar dari segala bentuk serangan binatang.

 

Pengharapan atas barokah juga disampaikan kepada para “sanak danyang kang mbaurekso” (keluarga danyang yang menjaga) Petak 13 dan 17. Saya tak tahu persis siapakah yang dimaksud danyang di sini. Bisa jadi danyang tersebut tak lain roh tokoh-tokoh dalam sejarah Ungkalan yang telah meninggal, orang pertama yang membabat tanah. Tak hanya danyang, ngalap berkah juga ditujukan pada ibu pertiwi, sebagai penghasil pangan dan pemelihara kehidupan. Di akhir, Mbah Jumiran menutupnya dengan kesaksian seorang muslim: “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

 

Meski secara geografis beririsan dengan laut selatan, Samudra Hindia, Mbah Jumiran tidak pernah menyebut Nyi Roro Kidul dalam ujub maupun doanya. Ini mungkin karena orang-orang Ungkalan sebenarnya adalah orang-orang Mataraman yang pedalaman. Slametan di kalangan mereka merupakan bagian dari ritus pedesaan yang berbeda dengan slametan khususnya di Jawa Tengah yang menggunakan model pemujaan kerajaan, dalam hal ini kraton Yogyakarta.

 

Cok bakal, ujub dan doa yang dibacakan dalam barikan, seakan menjadi sisa dari masa silam -suatu masa ketika pertanian belum terkapitalisasi, saat manusia dan alam hidup dalam harmoni, saling memelihara, saling memberi. Satu era ketika alam dipersonifikasi sebagai ibu pertiwi, sosok yang menghasilkan dan memelihara kehidupan.   

 

Krisis Ekologi Ungkalan

Ritual barikan sore itu menjadi pintu untuk memasuki spektrum yang lebih luas mengenai kehidupan orang-orang Ungkalan. Mengenai orang-orang Ungkalan, dulu, orang luar menyebutnya “wong alas” (orang hutan), “wong njero” (orang pedalaman), “wong bodho” (orang bodoh), “bongso celeng” (bangsa babi), “wong kasar” (orang berperangai kasar), dan berbagai sebutan lain yang bernada pejoratif. Ada anggapan di balik sebutan itu: bahwa orang-orang Ungkalan tak berkebudayaan, primitif. Orang-orang yang hidup terisolasi di rumah-rumah dari bilik bambu. Sungai, hutan dan lautan mengurung mereka dan menjadi garis batas alam yang memisahkan mereka dengan orang-orang luar Ungkalan.

 

Dulu, konon penanda orang-orang Ungkalan sangat mudah. Mereka identik dengan penjual kayu bakar, dengan tubuh yang kusam. Mereka memang harus keluar dari hutan, menyeberang sungai, sambil membawa kayu bakar untuk dijual dan membeli bahan makanan. Hasil hutan yang dijual tidak hanya kayu bakar, tapi juga bambu, rotan, dan lain-lain. Ciri lain orang Ungkalan juga bisa dikenali dari wajah mereka yang lebam saking seringnya terserang penyakit demam berdarah.  Pada era 40-an wabah demam berdarah pernah melanda Ungkalan.

 

Sebelum dibangun jembatan gantung hampir satu dekde yang lalu, keluar masuk Ungkalan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan jasa penarik tambang (rakit) melintasi sungai Mayang yang bermuara di Samudra Hindia. Ada jalan darat, namun harus melewati hutan dengan jalan yang berlumpur dan licin terutama di musim hujan, dengan jarak tempuh berkilo-kilo meter untuk bisa sampai ke jalan kecamatan. Orang-orang yang keluar masuk Ungkalan didominasi oleh para perambah hutan, para pencari kayu bakar, bambu atau rotan untuk dijual ke pasar desa. Pertanian terbatas pada tanaman holtikultura berupa jagung, kacang tanah, cabe, dan pepaya.

 

Setelah dibangun jembatan gantung, Ungkalan berubah. Truk-truk tampak parkir di mulut jembatan menunggu semangka. Kini lalu lintas keluar masuk Ungkalan lebih didominasi pengangkutan semangka, tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi bagi para petani Ungkalan. Mereka mengadaptasi kesuksesan petani semangka di pesisir barat wilayah Jember. Di sepanjang sempadan pantai selatan Ungkalan orang-orang menanam semangka. Penanaman semangka sangat intensif dan masif. Sempadan pantai yang dulu dihiasi oleh pepohonan dan semak belukar kini menjadi areal yang rata dengan tanah pasir, tanpa penghalang. Praktek pertanian semangka sangat boros dan gila-gilaan dalam penggunaan pupuk kimia.

 

Karena sempadan pantai sudah tidak produktif lagi untuk penanaman semangka, maka para petani mulai bergeser menanam semangka di tengah hutan yang selama ini ditanami jagung. Karena semangka butuh penyinaran, pohon-pohon di hutan pun harus dikurangi. Untuk menyiapkan lahan pertanian, mereka memanfaatkan lahan di sela-sela tanaman pohon jati. Namun, pohon-pohon jati itu tetap terasa menggangu. Maka, agar memperoleh penyinaran matahari secara maksimal, pohon-pohon harus dikurangi sebanyak mungkin.

 

Ekologi Ungkalan berada dalam situasi krisis, ia berubah secara dramatis. Kini, meminjam ungkapan Vandana Shiva (1998: 23), hutan Ungkalan bukan lagi sosok Ibu Pertiwi, tapi suatu alam perempuan yang dikuasai oleh otak laki-laki yang agresif. Hutan Ungkalan sedang mengalami transformasi dari seorang ibu yang hidup dan menghidupi menjadi sosok perempuan yang disubordinasikan pada kepentingan laki-laki. Pelbagai ritual dan cerita mitologis Ungkalan pun semakin terkikis dan satu-persatu hilang dari cerita tutur di masyarakat. Pak Sadik, seorang tua penjaga jembatan kali Kedung Watu di bawah pohon besar berusia ratusan tahun pun telah tiada. Cerita buaya putih penjaga kali rawa sudah tak terdengar lagi. Rawa sudah tak angker lagi, bahkan rimbunan pepohonan dan semak belukar di sekitar  rawa pun kini tampak benderang.

 

Tak hanya itu, pengetahuan dan keahlian “kedokteran” tradisional para perempuan Ungkalan alias dukun-dukun bayi juga telah dibabat habis oleh pengetahuan dan keahlian modern bidan-bidan puskesmas. Sebuah wawancara penelitian pada tahun 2013 mengisahkan bagaiaman dukun-dukun bayi Ungkalan dipanggil oleh pihak puskesmas dan diperingatkan agar tidak lagi melayani persalinan. Jika tidak, mereka diancam akan dipenjarakan. (Erna, Perempuan Ungkalan: 2013)

 

Ke depan, krisis ekologi semakin diperparah oleh hadirnya Jalur Lintas Selatan yang proses pembangunannya sedang berjalan, sepanjang 1.405 kilometer yang menghubungkan antara Banten di Jawa Barat dan Banyuwangi di Jawa Timur. Konon, proyek ini sebenarnya untuk melempangkan eksploitasi sumber daya alam yang sangat kaya di sepanjang pesisir selatan Jawa. Semoga itu tidak benar. (2 dari 2 - habis)

 

Tikus, Barikan dan Krisis Ekologi (1 of 2)

Tikus, Barikan dan Krisis Ekologi (2 of 2)



(*) Mohammad Ardiansyah adalah Peneliti dan aktivis sosial budaya yang tinggal di Jember

 

Redaksi menerima kiriman berbagai macam tulisan, opini, puisi, cerpen, dll. Redaksi berhak mengedit sesuai dengan kaidah bahasa tanpa mengubah substansi dari isi tulisan. Email: redaksibedadung@gmail.com

0/Komentar

Lebih baru Lebih lama