• Jelajahi

    Copyright © 2015-Bedadung
    Bedadung

    Iklan

    Opini

    Ini Sejarah Kelahiran Kabupaten Jember

    Selasa, Maret 09, 2021 WIB Last Updated 2021-03-09T12:12:57Z

     

    Pada tahun 1817-1883, Jember hanya merupakan wilayah distrik/kawedanan yang berada di bawah wilayah Afdeeling Bondowoso, Karesidenan Besuki. Perkembangan yang cukup signifikan di wilayah Jember, khususnya pada bidang perkebunan, menjadikan Jember pada tahun 1883 dimekarkan menjadi wilayah mandiri dan terpisah dari Afdeeling Bondowoso.

    Namun, keduanya masih dalam wilayah Karesidenan Besuki. Sebagai wilayah Afdeeling, Jember pertama kali dipimpin oleh seorang bupati yang merupakan orang pribumi bernama R. Panji Kusumonegoro yang diawasi oleh seorang asisten residen berkebangsaan Belanda bernama C.H Blanken.

    Di mana dia merupakan kepanjangan tangan dari residen atau Gubernur Jenderal. Jember kala itu membawahi 4 wilayah distrik/kawedanan, yakni distrik Jember, Sukokerto, Puger dan Tanggul. Masing-masing kawedanan dipimpin oleh seorang wedana yang merupakan orang pribumi dan diawasi oleh seorang controleur yang merupakan orang berkebangsaan Belanda.

    Selain jabatan-jabatan tersebut, ada pula jabatan patih yang berfungsi sebagai perantara bupati dengan para wedananya. Istana atau kantor patih Jember, diperkirakan ada di Jalan Trunojoyo, Kelurahan Kepatihan Kaliwates. Adapun kantor dan rumah kediaman wedana, kini telah menjadi kantor Masjid Baitul Amin.

    Pada akhir tahun 1800-an hingga awal 1900-an, terjadi beberapa pemekaran dari 4 distrik yang ada. Distrik Jember mengalami pemekaran menjadi distrik Jember dan distrik Rambipuji. Distrik Puger mengalami pemekaran menjadi distrik Puger dan distrik Wuluhan. Distrik Sukokerto berubah menjadi distrik Mayang dan distrik kalisat. Adapun Sukokerto, kini hanya menjadi salah satu desa di wilayah Kecamatan Sukowono.

    Kemudian pada tanggal 1 Januari 1929, pemerintah kolonial Hindia Belanda menerbitkan Besluit Staatblad nomor 322 yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, yaitu Andries Cornelis Dirk de Graeff di Istana Cipanas. Tanggal keluarnya besluit tersebut, belakangan hari ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Jember.

    Besluit mengubah status wilayah Jember dari Afdeeling menjadi Regentschap. Kedua istilah tersebut sesungguhnya tidak berbeda, mengacu kepada wilayah setingkat kabupaten. Pada tahun itu pula, RT. Ario Notohadinegoro sebagai bupati pertama Jember sejak statusnya diubah menjadi regentschap, nama bupati Notohadinegoro kini diabadikan sebagai nama Bandara Jember yang berlokasi di Desa Wirowongso Kecamatan Ajung.

    Sebagai wilayah Regentschap, Jember terdiri dari 7 wilayah distrik. Kemudian pada tahun 1941, masing-masing wilayah distrik tersebut dipecah lagi menjadi wilayah-wilayah yang lebih kecil yang disebut dengan Onderdistrik, totalnya ada 25 Onderdistrik. Berikut ini rincian wilayah distrik dan onderdistrik di Jember pada masa lalu:

    •  Distrik Jember meliputi onderdistrik Jember, Wirolegi, dan Arjasa.
    •  Distrik Kalisat meliputi onderdistrik Kalisat, Ledokombo, Sumberjambe, dan Sukowono.
    •  Distrik Rambipuji meliputi onderdistrik Rambipuji, Panti, Mangli, dan Jenggawah.
    •  Distrik Mayang meliputi onderdistrik Mayang, Silo, Mumbulsari, dan Tempurejo.
    •  Distrik Tanggul meliputi onderdistrik Tanggul, Sumberbaru, dan Bangsalsari.
    •  Distrik Puger meliputi onderdistrik Puger, Kencong Gumukmas, dan Umbulsari.
    •  Distrik Wuluhan meliputi onderdistrik Wuluhan, Ambulu, dan Balung
    Komentar

    Tampilkan

    Terupdate