RW Permanen

RW Permanen

Jumat, Oktober 30, 2020

Tanpa ada angin dan hujan, Matkardi tiba-tiba jadi ketua RW. Entah bagaimana caranya wartawan bodrek itu bisa bikin RW hanya untuk satu RT yang jumlah warganya cuma 27 KK.


​Meski Matkardi ujug-ujug jadi ketua RW, mulanya warga tak ambil pusing. Tapi tingkah Matkardi yang kayak juragan areng - main perintah sana-sini dan bikin ropat-rapat tak peduli hari - seluruh warga jadi muak. Puncak kemuakan warga akhirnya sampai di kerongkong saat Matkardi tak mau ngurusi pembagian bantuan kompor dan tabung gas buat warga.


​Matkoplak, sekretaris RW yang sering menjadi keset ketua RW,  mendengar gerundelan warga menjadi bangkit keberaniannya untuk balas dendam. Matkoplak ingin menjatuhkan Matkardi dari tampuk ketua RW.


​Matkoplak diam-diam berencana bikin undangan untuk musyawarah luar biasa warga. Tapi ada kendala, undangan harus distempel, tapi stempel RW ada di rumah Matkardi. Tanpa pikir panjang Matkoplak pesan stempel RW di tukang stempel.


​Undangan pun jadi dan langsung disebar ke semua warga. Semua warga menyambut baik. Tapi Matkardi meradang, ia tak terima dengan Matkoplak memalsukan stempel RW. 


​"Kurang ajar, kamu telah mempalsukan stempel RW dan itu merupakan perbuatan melanggar hukum, dan kamu akan saya polisikan," bentak Matkardi.


​"Polisikan saja, saya tidak takut, ini stempel untuk kegiatan warga. Pertemuan ini kehendak warga," jawab Matkoplak dengan agak gemetar, tapi dengan menjaga perasaan agar terlihat berani.


​"Kalau mau polisikan saya, silahkan. Tapi nanti malam, sampean diundang seluruh warga, jadi harus datang jika tak mau diberhentikan jadi RW," tegas Matkoplak sambil membanting daun kemangi yang sejak tadi diremas-remasnya untuk menghilangkan bau amis ikan di tangannya. Matkoplakpun meninggalkan Matkardi dengan gaya sedikit emosi.


​Malam acara wargapun berdatangan di balai RW. Tak banyak warga yang tahu agendanya apa, dan yang dibicarakannya pun hal yang umum. Warga bertanya-tanya apa agenda musyawarah luar biasa itu.


​Pada permulaan acara, Matkardi pidato berapi-api, mengatakan jika ia telah mendapat SK sebagai RW permanen dari kelurahan. Ia berjanji membangun lingkungan RW dan menyejahterakan semua warga. Tepuk tangan menggema di balai RW.


​Menjelang penutupan pertemuan, Matkoplak membagikan angket persetujuan warga untuk jabatan RW bagi Matkardi. "Agar Pak Matkardi lebih kuat jadi ketua RW, mari kita isi angket ini", kata Matkoplak sambil mengibas-ngibaskan lembar angket. Dalam angket tersebut warga hanya diminta mencoret salah satu dari pernyataan "setuju" atau "tak setuju" Matkardi jadi ketua RW. 


​Bersama dengan pembagian angket, dengan merebut mik dari tangan Matkoplak, Matkardi kembali berpidato. "Saya akan beri bea siswa bagi semua warga, bikin stadion yang megah, bikin sekolah, bikin jaminan kesehatan gratis. Pendeknya, saya akan buat semua warga sehat, aman, dan sejahtera".


​Tanpa disangka-sangka, muka Matkardi seperti macan yang belum makan satu bulan, lemas tanpa tenaga. Hasil angket, seratus persen warga tak setuju Matkardi jadi ketua RW. Matkardi mendapatkan SK permanen dari warga: diberhentikan sebagai ketua RW. 


​Menghadapi kenyataan itu, tubuh Matkardi yang tinggi, besar, dan gempal limbung. Seperti cucian basah, tubuh Matkardi melorot dan ngumbruk di tengah-tengah musyawarah warga. Matkardi semaput(*)


-------------------------------------

(*) Kolom Celetuk merupakan cerita anekdot lucu sebagai bentuk kritikan terhadap masalah sosial yang ada di masyarakat.


Redaksi menerima berbagai bentuk tulisan bisa dikirimkan melalui redaksibedadung@gmail.com

TerPopuler