Berkah Pandemi (1): Ngaji Daring di Pesantren Jangkau Lebih Luas Masyarakat

Berkah Pandemi (1): Ngaji Daring di Pesantren Jangkau Lebih Luas Masyarakat

Sabtu, Oktober 31, 2020
Jember – Pandemi Covid-19 yang terus berkepanjangan telah membuat banyak kehidupan manusia berubah. Sembari menanti ditemukannya vaksin, mau tidak mau masyarakat harus menyesuaikan diri dengan kenormalan baru. Namun terdapat hikmah di balik musibah, seperti yang dirasakan Pondok Pesantren Mabdaul Maarif (Madaf) yang ada di Desa/Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Seperti halnya pesantren-pesantren lain, Ponpes Mabdaul Maarif pada April 2020 harus memulangkan seluruh santrinya. Upaya ini untuk menjalankan anjuran pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Karena pembelajaran tatap muka tidak memungkinkan, maka pihak pengasuh atas dasar ikhtiya’ (kehati-hatian) memulangkan para santri, dengan catatan mereka tetap harus mengaji alquran di rumah. Mereka juga diminta tetap belajar sebagaimana kewajiban pelajar dan santri biasanya,” ujar salah satu pengajar di Pondok Pesantren Mabdaul Maarif, Rijal Mumazziq Zionis, Jumat, 30 Oktober 2020.

Seperti halnya tradisi pesantren pada umumnya, kegiatan ngaji kitab kuning menjadi fokus pengajaran di Pondok Pesantren Mabdaul Maarif sejak awal berdiri di awal abad XX.


Pihak pesantren memutuskan kegiatan mengaji harus tetap berjalan meski santri berada di rumah masing-masing. Maka pengajian kitab kuning dilakukan secara online atau dalam jaringan (adring) melalui Facebook dan Instagram. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pesantren, pengajian dilakukan secara virtual.

“Pesantren Mabdaul Maarif baru bikin akun FB dan IG pada masa pandemi ini. Ini semacam hikmah di balik musibah,” kata Rijal.

Beberapa kita kuning yang dibaca dan dikaji secara virtual antara lain Tafsir Jalalain, Minhajul Abidin, dan Tafsir Al Ibriz. Rijal mengampu pengajian kitab Tafsir Al-Ibriz, karya KH Bisri Musthofa, ayahanda KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Menurut Rijal, ada hal yang terasa berbeda ketika ngaji secara virtual dibandingkan dengan tatap muka langsung.

“Awalnya memang terasa sedikit aneh. Biasanya kita ngaji bareng sambil guyon. Seperti Gus Nizam Masyhuri yang mengajar kitab Tafsir Jalalain, biasanya ramai. Ini harus guyon dan tertawa sendiri meski juga didampingi pengurus sebagai operator kamera. Tetap terasa aneh memang,” tutur pria yang juga Rektor di Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (INAIFAS) Kencong, Jember ini.



Namun para pengajar di Pesantren Mabdaul Maarif memilih tetap semangat mengajarkan kitab secara virtual. Sebab, situasi pandemi mengharuskan semua pihak tanpa terkecuali taat pada protokol kesehatan.

“Tidak ada hal yang disesalkan karena ngaji tetap harus berjalan,” katanya.

Hikmah lain yang didapat adalah pengajian yang dilakukan secara virtual bisa menjangkau lebih luas masyarakat, bahkan bisa diakses seluruh dunia. Pengajian tidak hanya bisa diakses para santri, para alumni yang tersebar di seluruh penjuru nusantara juga bisa menyimak dan mengikuti pengajian secara daring.

“Banyak alumni yang di Kalimantan, Papua, Sulawesi, atau mereka yang sedang kuliah di Jakarta juga bisa ikut ngaji kitab. Mereka bisa menyimaknya dari akun Facebook Pesantren Mabdaul Maarif,” ujar Rijal.



Sejak pertengahan September 2020, para santri telah kembali ke pesantren. Pembelajaran kembali dilakukan secara tatap muka dengan mematuhi protokol kesehatan secara ketat seperti jaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan.

Segala persiapan juga telah dilakukan pesantren sejak sebelum santri kembali ke pondok. Pengajian kitab kuning saat ini telah kembali dilakukan secara konvensional dengan protokol kesehatan. Meski demikian, pihak pesantren memutuskan pengajian tetap disiarkan secara live di akun Facebook maupun Instagram. Sehingga para alumni maupun masyarakat luas bisa mengaji secara online.

“Kita semua berdoa semoga pandemi lekas berakhir sambil tetap menjalankan protokol kesehatan seperti yang dianjurkan para ahli dan pemerintah,” kata Rijal. (*)

TerPopuler