Sekelumit Bupati Jember Notohadinegoro

Raden Tumenggung Ario Notohadinegoro

Raden Tumenggung Ario Notohadinegoro, berdasarkan kajian tim penulisan buku Wakil Rakyat Kabupaten Jember Tempoe Doeloe dan Sekarang 1931-2007, adalah Bupati Kabupaten Jember yang kedua. Penjelasan tentang Notohadinegoro sebagai Bupati Jember Kedua berdasarkan penelusuran terhadap Regeering Almanak Voor Nederlandsch Indie antara tahun 1902 – 1938 tentang penjabat-penjabat di Kabupaten Jember.

RT Ario Notohadinegoro ditulis pertama kali dalam Regeering Almanak Voor Nederlandsch Indie Tahun 1931 sebagai Regent atau Bupati. Sehingga dapat dikatakan RT Ario Notohadinegoro menjabat sebagai Bupati Jember sejak tahun 1931.


Regeering Almanak Voor Nederlandsch tahun 1930 menyebutkan bahwa Raden Tumenggung Wirjodinoto sebagai Bupati Jember. RT Wirjodinoto diangkat sebagai Bupati Jember pada tanggal 17 September 1928.

Pengangkatan RT Wirjodinoto sebagai Bupati Jember sebagai tindak lanjut dari diberlakukannya Staatblad Nomor 322 Tahun 1928 tentang Bestuurshevorming Decentralisatie, Regentschappen Oost Java (Aanwijzing van Het Regentschap Djember als Zelfstandige Gemeenschap) tertanggal 9 Agustus 1928 ditandatangani Gubernur Jenderal De Graeff[5]. Keputusan ini diperkuat dalam Peovincial Blad van Oost Java, Serie A No. 8 Tanggal 7 September 1929 ditandatangani oleh Gubernur Jawa Timur pada saat itu yaitu Hademan pada tanggal 15 Agustus 1929.

Pemberlakuan Staatblad Nomor 322 Tahun 1928 secara efektif sejak tanggal 1 Januari 1929. Tanggal 1 Januari ini kemudian dijadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Jember berdasarkan pemberlakuan secara efektif Staatblad Nomor 322 Tahun 1928.

Kewilayahan Regentschap Djember berdasarkan Staatblad Nomor 322 Tahun 1928 meliputi 7 (tujuh) District (Kawedanan). Yaitu: District Djember, District Kalisat, District Majang, District Rambipoedji, District Tanggoel, District Poeger dan District Woeloehan.

Nama Notohadinegoro cukup harum bagi warga Jember. Apa sebenarnya
keistimewaan Bupati Jember periode 1929-1942 itu sehingga namanya dipakai untuk nama stadion dan lapangan terbang?

Ternyata tidak cukup banyak jejak Notohadinegoro yang terekam dalam sejarah. Hanya saja dia dipandang berhasil membawa Jember melewati masa-masa sulit ketika itu.

Kegigihan Notohadinegoro mampu 'menyelamatkan' Jember karena beban utang yang
ditinggalkan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Dari data yang dihimpun dari berbagai sumber bahwa masa peralihan dari Pemerintah Hindia Belanda ke Indonesia perlahan terjadi setelah diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintahan Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, pada tanggal 21 Agustus 1928.

Mempelajari konsideran Staatsblad Nomor 322, diperoleh data yang menunjukkan bahwa
Kabupaten Jember menjadi kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri dilandasi 2 macam
pertimbangan, yaitu Pertimbangan Yuridis Konstitusional dan Pertimbangan Politis
Sosiologi.

Semua ketentuan yang dijabarkan dalam staatsblad ini dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1929. Dan Noto Hadinegoro didapuk sebagai bupati hingga tahun 1942.


Bupati Jember dari waktu ke waktu

    Noto Hadinegoro 1929 - 1942
    Boediardjo 1942 - 1943
    R. Soedarman 1943 - 1947
    Roekmoroto 1947 - 1950
    R. Soekarto 1950 - 1957
    R. Soedjarwo 1957 - 1959
    Moh. Djojosoemardjo 1959 - 1961
    R. Soedjarwo 1961 - 1964
    R. Oetomo 1964 - 1967
    Moh. Huseindipotruno 1967 - 1968
    Abd. Hadi 1968 - 1979
    Soepono 1979 - 1984
    Soeryadi Setiawan 1984 - 1989
    Priyanto Wibowo 1989 - 1994
    Winarno 1994 - 1999
    Samsul Hadi Siswoyo 2000 - Mei 2005
    Sjahrazad Masdar Mei 2005 - 15 Agustus 2005 (Penjabat Bupati)
    Ir. H. MZA. Djalal, Msi 15 Agustus 2005


Source: 

  • Bupati Jember Pertama, Ternyata Bukan Notohadinegoro ( Oleh: Y. Setiyo Hadi (Mas Yopi) (Pengamat Budaya Berdomisili Di Kencong dan  Ketua Taman Baca Budaya (TBB) SALAM Jember)
  • Berbagai sumber 
  • Wikipedia

0/Komentar

Lebih baru Lebih lama