Mengintip Sosok Habib Sholeh Tanggul

Mengintip Sosok Habib Sholeh Tanggul

Sabtu, Desember 19, 2020

Catatan ringan Oleh Mashuri*

 

Habib Sholeh Tanggul! Demikianlah tokoh agama dari Hadramaut Arab ini biasa disapa. Nama Tanggul demikian lekat di belakang namanya. Tanggul adalah sebuah nama desa atau kecamatan di Jember, Jawa Timur. Tercatat, ia tidak hanya mewarnai perjalanan Jember dari sisi lahiriah, tetapi turut menyumbang pada dinamika Jember dari sisi yang tak mudah diterka dan disimak dengan mata biasa, karena ia pembangun hati dan jiwa.

 

​Bahkan, dapat ditera, kawasan tapal kuda Jawa Timur berhutang banyak kepadanya. Hingga kini, makamnya di kompleks Masjid Riyadus Shalihin Tanggul, selalu dikunjungi peziarah. Bahkan, pada acara peringatan haulnya pada tanggal 10 Syawal  setiap tahun, sepanjang jalan menuju masjid dipenuhi lautan manusia.

​Sebenarnya, nama resmi habib yang satu ini adalah Habib Sholeh bin Muhsin Hamid. Ia  lahir di Korbah Ba Karman, termasuk wilayah Wadi ‘Amd, sebuah desa di Hadramaut, pada tahun 1313 H atau 1895 M. Ayahnya bernama Habib Muhsin bin Ahmad Al-Hamid yang dikenal dengan sebutan Bakri Al-Hamid, seorang ulama. Ibunya bernama ‘Aisyah, berasal dari keluarga Abud Ba Umar termasuk dari kalangan ahli agama di Al-‘Amudi. Ia menempuh pelajaran agama dari beberapa ulama. Di antaranya belajar Alquran pada Syekh Said Ba Mudhij, di Wadi ‘Amd dan menimba ilmu fiqih dan tasawuf dari sang ayah sendiri Habib Muhsin bin Ahmad Al-Hamid.

​Diperkirakan Habib Sholeh Tanggul menetap di Tanggul, Jember, sebelum tahun 1925 M. Pada usia 26 tahun, tepat bulan Juni tahun 1921 M, Habib Sholeh meninggalkan tanah kelahirannya menuju Indonesia. Ia ditemani Syekh Fadli Sholeh Salim bin Ahmad Al-Asykariy. Setiba di Indonesia, ia singgah di Jakarta beberapa hari.

​Selanjutnya ia pun menuju Lumajang karena sepupunya Habib Muhsin bin Abdullah Al-Hamid yang tinggal di Lumajang, meminta Habib Sholeh untuk singgah di kediamannya. Habib Sholeh pun tinggal sementara di Lumajang. Tak diketahui seberapa lama di Lumajang, ia lalu pindah ke Tanggul, Jember. Selanjutnya, ia pun tinggal dan menetap di Tanggul.

​Sebelum terjun membina lahir dan batin masyarakat, Habib Soleh Tanggul melakukan  serangkaian pembinaan diri yang sangat ketat. Tercatat, ia melakukan uzlah lebih dari 7 tahun untuk mengenal diri dan Tuhannya. Ia baru keluar dari khalwatnya setelah sang guru Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik mengajaknya, lalu memintanya datang ke kediamannya di Gresik.

​Sesampainya di rumah Habib Abubakar, Habib Sholeh diminta untuk mandi di jabiyah (kolam mandi khusus di kediaman Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf). Awalnya, ia begitu gundah dengan amanat yang tersandang di pundaknya, sebagaimana yang diberikan sang guru. Namun, setelah berziarah ke Madinah, ia pun semakin mantap menapakkan diri jalan pengabdian yang telah dirintisnya.

​Ia mengawalinya dengan membangun musala di tempat kediamannya. Di musala itulah kegiatan agama mulai dari salat berjamaah, membaca Alquran dan pengajian digelar. Pengajiannya demikian membumi, misalnya  setiap selesai salat Asar, ia akan mengkaji Nashaihud Dinniyah, karangan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, dan menerangkan atau menguraikannya ke dalam bahasa keseharian masyarakat sekitar, yakni bahasa Madura. Orang-orang yang datang mengaji kepadanya pun demikian melimpah.

​Beberapa tahun kemudian, ia mendapatkan hadiah sebidang tanah dari seorang simpatisannya, yaitu H. Abdur Rasyid.  Tanah itu lalu diwakafkan oleh Habib Sholeh kepada umat. Di atas tanah inilah, dibangun Masjid Riyadus Shalihin. Begitu rampung dibangun, kegiatan pembinaan hati dan jiwa masyarakat pun semakin semarak.

​Selain dengan pengajian-pengajian formal, ia membuka diri sebagai tumpahan segala persoalan masyarakat. Tak heran, banyak orang berdatangan kepadanya, mulai dari rakyat jelata hingga pembesar negara. Ia dikenal sangat memuliakan tamu yang datang kepadanya. Ia menimba air wudlu dan mandi sendiri buat tamu-tamunya. Ia akan menyuguhkan makanan terbaik dan tidak akan memakan suguhannya itu sebelum sang tamu memakannya.

​Tak heran, rumah Habib Sholeh selalu dikunjungi tamu, mulai sekedar silaturrahmi, sampai minta berkah doa. Tidak hanya dari Tanggul Jember, tetapi luar Jawa. Bahkan tamu-tamu juga datang dari luar negeri, seperti Belanda, Afrika, Cina, Malaysia, Singapura dan lain-lain. Sebuah sumber menyebut mantan wakil Presiden Adam Malik merupakan satu dari banyak pejabat yang sering sowan ke rumahnya. Satu bukti kemasyhurannya, kalau Habib Sholeh ke Jakarta, warga yang menjemputnya demikian banyak, melebihi penjemputan pejabat negara sekelas presiden.

​Reputasi spiritual Habib Soleh Tanggul luar biasa. Begitu banyak kisah yang menunjukkan kualitasnya sebagai seorang manusia yang tekun di jalan Tuhan dan kelebihan-kelebihannya sebagai kekasih Allah. Banyak kisah terkait dengan hal itu. Dalam manakibnya, tercatat begitu banyak orang datang kepadanya. Di antara kisah-kisah yang mashur adalah kedatangan dua orang yang kelak menjadi Menteri Luar Negeri RI, yaitu Adam Malik dan Alwi Shihab. Keduanya datang ketika dilanda masalah. 

​Adam Malik datang ketika ia masih menjadi ketua Kantor Berita “Antara”. Ia memiliki masalah dengan menteri luar negeri Soebandrio yang dikenal berpaham komunisme. Pada saat itu, Habib Soleh berujar agar Adam Malik tidak perlu bersedih hati karena dialah yang bakal menggantikan Soebandrio kelak.

​Begitu pula dengan Alwi Shihab. Dia datang dengan ayahnya ketika akan berangkat kuliah di Harvard University dan memiliki masalah. Ia disuruh Habib datang ke Adam Malik, yang waktu itu menjadi menteri luar negeri. Alwi Shihab merasa tidak pantas datang ke menteri luar negeri.

​Habib Soleh pun mengatakan, Alwi Shihab tidak perlu bersedih hati karena dia nanti juga duduk di kursi yang sekarang diduduki Adam Malik. Apa yang dibicarakan Habib Soleh menuai bukti di kemudian hari. Adam Malik menjadi menteri luar negeri, bahkan sempat menjadi wakil presiden. Alwi Shihab pun menjadi menteri luar negeri pada masa pemerintahan presiden KH. Abdurrahman Wahid.

​Selain itu, begitu banyak kalebihan batin dari Habib Soleh. Sebagaimana kisah terkait dengan KH. Ahmad Qusyairi, putera Mbah Sidik Jember dan mertua Mbah Hamid Pasuruan. KH. Ahmad Qusyairi adalah sahabat karib Habib Sholeh. Dulu, Habib Sholeh sering mengikuti pengajian KH. Ahmad Qusyairi di Tanggul. Setelah tanda-tanda kewalian Habib Sholeh mulai kelihatan, ganti KH. Ahmad Qusyairi yang mengaji kepada Habib Sholeh.

​Menjelang wafat, KH. Ahmad Qusyairi yang tinggal di Pasuruan bersilaturrahmi ke kediaman Habib. Kala itu sambutan Habib begitu hangat, sampai KH Ahmad Qusyairi dipeluknya erat-erat. Sebuah sambutan yang tidak seperti biasanya. Bahkan, Habib Sholeh menyembelih seekor kambing, khusus menjamu sang  karib. Di sela-sela bercengkrama, Habib Sholeh mengatakan bahwa sambutan itu terakhir kali yang dapat ia persembahkan. Ternyata hal itu adalah isyarat. Beberapa hari kemudian, KH. Ahmad Qusyairi wafat di kediamannya.

​Di sisi lain, Habib Sholeh juga aktif dalam kegiatan-kegiatan lain, apalagi ia tidak hanya dikenal di Jember, tetapi di kalangan masyarakat Jawa Timur, bahkan Nasional. Beberapa kegiatan menunjukan bagaimana masyarakat memandang habib tersebut.

​Ia tercatat sebagai pemberi spirit dengan meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Islam di Surabaya. Bahkan setelah rumah sakit berdiri, ia tercatat sebagai penasihat Rumah Sakit tersebut. Ia juga tercatat sebagai ketua takmir Masjid Jami’ Jember, yang dalam peletakan batu pertamanya, ia pun turut serta.

​Habib Sholeh dikaruniai 6 putra-putri, yaitu  Habib Abdullah, Habib Muhammad, Syarifah Nur, Syarifah Fatimah, Habib Ali, dan Syarifah Khadijah. Menjelang wafat Habib Sholeh berpesan pada anak-anak dan keluarganya, dengan sebuah wasiat, ”saya minta maaf, sebentar lagi saya akan pergi jauh. Yang rukun semuanya ya, kalau saya pergi jangan sampai ada permusuhan di antara kalian”. Tak lama kemudian, ia pun wafat, tepat pada hari Ahad, 9 Syawal 1396 H/ 1976 M pada usia 83 tahun. Jasadnya dimakamkan di samping Masjid Riyadhus Shalihin, Tanggul.

​Sebagaimana seorang hamba yang dekat dengan Tuhan, ia tetap hidup meski jasadnya sudah berkalang tanah. Ibarat pepatah, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, begitu pula dengan Habib Sholeh Tanggul. Meski sudah mati, namanya terus semerbak mewangi…

​MA

​On Siwalanpanji, 2019

​Ilustrasi ramban via Google  (Habib Sholeh di antara habib lain). Teks dianyam dari berbagai sumber.

----------

* ​Mashuri lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Buku puisinya antara lain Pengantin Lumpur (2005), Munajat Buaya Darat (2013), dan Dangdut Makrifat (2018). Ia bekerja sebagai peneliti sastra di Balai Bahasa Jawa Timur. Hubbu adalah judul prosanya yang mengantarkan namanya meraih predikat sebagai juara 1 Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta, tahun 2006.

TerPopuler