Mungkin Barzanji Langgam Jawa-Madura Terakhir

Mungkin Barzanji Langgam Jawa-Madura Terakhir

Jumat, November 06, 2020
Foto: Tampak beberapa jamaah didalam masjid (Mohammad Ardiansyah)
Penulis: Mohammad Ardiansyah*

Saat sholat Isya, sayup-sayup terdengar lantunan sholawat dengan nada yang tak lumrah. Sholawat dengan langgam Jawa-Madura: mendayu, melengking, dengan teknik vokal apa adanya. Suaranya datang dan pergi, mengikuti arah angin. Mendengarnya, seperti membawa saya ke masa silam, ketika kebudayaan tidak dikonfrontasikan dengan agama: ketika –bagi lidah Jawa- “ain” diucapkan “nga” adalah hal yang lumrah.

Usai wiridan singkat dan doa, bergegas saya turun dari pasholatan, menghidupkan motor lalu melaju mencari sumber suara. Malam itu (22/10/2002) untuk yang ketiga kalinya saya mencari sumber suara. Dua upaya sebelumnya gagal. Masjid-masjid dan musholla di sekitar perumahan saya tak ada yang melantunkan sholawat. Keluar perumahan pendengaran saya malah dikacaukan oleh deru kendaraan yang hilir mudik ke timur ke barat. Saya ke arah timur, menuju masjid dekat pasar Mangli, suara itu malah tak terdengar lagi. Demikian pula ketika saya menuju masjid dan musholla di perumahan-perumahan lainnya di sekitaran Mangli, tak satu pun lantunan sholawat itu persis sebagaimana yang saya dengar.

Entah, tiba-tiba saya merasa begitu yakin suara itu berasal dari sebuah masjid di tengah persawahan sekira dua kilometer dari tempat saya tinggal. Sebelumnya tak terbersit pikiran bahwa masjid di perkampungan yang sepi itu diadakan sholawatan. Alasan lainnya, saya sebenarnya tak cukup punya nyali untuk datang ke sana mengingat jalanan menuju ke masjid tersebut sepi dan gelap, melewati kompleks kuburan. Sering terjadi pembegalan di sepanjang jalan persawahan yang menghubungkan masjid dengan jalan raya.

Malam itu saya memiliki keberanian dua kali lipat dibanding biasanya. Ada tiga jalan menuju masjid dari tempat tinggal saya, tiga-tiganya melewati kuburan. Satu jalan hanya khusus untuk kendaraan roda dua, lewat tembusan jalan belakang perumahan, melewati jembatan yang melintasi anak kali Bedadung yang rimbun pepohonan bambu, lalu sedikit menanjak dan menikung yang di samping kanan-kirinya adalah kuburan. Jalan satunya lagi memutar lewat jalan raya, lalu belok memasuki perkampungan yang diujungnya terdapat kuburan sebelum memasuki areal persawahan yang cukup panjang dengan beberapa tikungan. Satu jalan lagi memutar melewati jalan raya, kemudian memasuki perkampungan, lalu melewati jembatan gantung yang melintas di atas Kali Bedadung, sungai terbesar yang melintasi kota Jember. Sebelum memasuki jembatan gantung dari arah utara, satu kompleks pemakaman dengan latar rimbunan pohon bambu menghadang, di tambah suasana saat melintasi sungai yang jika malam sangat gelap.

Saya memilih jalur yang melintasi jalan raya. Dugaan saya benar. Lantunan sholawat berasal dari masjid yang saya maksud. Masjid itu masuk wilayah Jubung. Bangunan masijidnya dikelilingi pagar tembok setinggi lutut, dinding masjid yang didominasi kaca membuat hamparan persawahan seperti bagian tak terpisahkan dari masjid. Sholawat Barzanji dilaksanakan di masjid itu tiap malam Jum'at setelah shalat Isya.

Ada sembilan orang yang membaca sholawat Barzanji malam itu. Saya datang saat mahallul qiyam. Posisi berdiri masing-masing orang tak sama. Sebagian ada yang membentuk lingkaran kecil saling berhadapan, beberapa lainnya bersandar di tembok menghadap ke sudut yang saling silang. Mereka tampak khusyuk dan rileks. Tak ada rebana atau alat musik lain, hanya mengandalkan vokal.

Nada yang dilantunkan tidak seperti umumnya sholawatan yang bernuansa Arab atau Timur Tengah, tetapi menggunakan langgam Jawa-Madura. Tak semuanya mampu melantunkan nada itu, hanya seorang laki-laki berumur 70an bernama Pak Pi’i (Muhammad Syafi’i) dan seorang keponakannya yang bisa melantunkan. Pak Pi’i dulunya sempat belajar tembang-tembang Jawa-Madura dari kakek mertuanya yang tak lain pamaos (tukang baca dengan menembang) dalam tradisi ritual mamaca. Dulu, orang-orang tua di dusunnya kerap terlibat dalam kegiatan mamaca di sekitaran Jubung, Rambipuji. Kini tradisi mamaca sudah tak ada lagi di Jubung.

Mamaca merupakan versi lain macapat (puisi tradisional) Jawa, dan berkembang terutama di kalangan masyarakat Madura. Mamaca biasanya diselenggarakan pada upacara ritus peralihan (rites the passage). Pupuh (metrum)-nya pun sama. Namun, malam itu saya sulit mengidentifikasi pupuh apa yang sedang dimainkan oleh Pak Pi’i. “Cengkoknya sulit ditirukan,” sebagaimana pengakuan kawan-kawannya. Walhasil, ketika Pak Pi’i mendapat giliran memimpin pembacaan Barzanji, kawan-kawannya kesulitan menirukan nada dan cengkoknya.

Pelantun Barzanji dengan langgam Jawa-Madura mungkin hanya tersisa Pak Pi’i seorang. Selebihnya cenderung menyenandungkan langgam Arab-Timur Tengah, terutama seperti yang dipopulerkan oleh Habib Syekh. Di mana-mana di masjid dan musholla, atau di acara hajatan-hajatan dan hari-hari besar Islam, jamaah-jamaah sholawat menyenandungkan Barzanji dengan nada yang hampir seragam, di mana-mana sama. Demam Habib Syekh/ Syekher Mania menjadi gejala umum di kalangan santri tradisional dalam dua dekade belakangan ini.

Senandung Barzanji Pak Pi’i sama sekali tak populer. Tapi ia menjadi penanda bahwa pernah dalam suatu kurun masa tertentu Islam begitu njawani. Entah kenapa dan oleh suatu proses apa nada-nada Barzanji yang njawani itu kini mulai mengarab lagi. Barzanji –ini mungkin salah satu kelebihannya- sebenarnya rangkaian bait-bait puisi yang bisa disenandungkan dengan nada apa saja. Di masa kecil saya dulu sering mendengar Barzanji dilantunkan dengan mengadaptasi nada-nada dari musik dangdut. Tidak hanya dangdut, bahkan lagu-lagu pop. Dan adaptasi itu sangat mudah sekali. Barzanji memiliki fleksibilitas nada, sehingga memiliki kemampuan akulturasi yang tinggi. Namun belakangan ini ada semacam tren ke arah konformitas, kecenderungan untuk mengarab lagi. Pak Pi’i, mungkin, pelantun langgam Jawa-Madura terakhir dalam pembacaan Barzanji.


--------------------------------------
(*) Mohammad Ardiansyah adalah Peneliti dan aktivis sosial budaya yang tinggal di Jember


Redaksi menerima berbagai bentuk tulisan bisa dikirimkan melalui redaksibedadung@gmail.com








TerPopuler