Wings Air Liburkan Penerbangan Jember-Surabaya

Wings Air Liburkan Penerbangan Jember-Surabaya

Kamis, Oktober 22, 2020



Jember, Maskapai penerbangan Wings Air liburkan sementara layanan penerbangan Jember – Surabaya Pulang – Pergi (PP). Penerbangan dihentikan selama 2 bulan, mulai awal November hingga akhir Desember 2020.



Kepala UPT Bandara Notohadinegoro Jember, Edi Purnomo menyatakan, pihaknya telah menerima surat pemberitahuan dari Wings Air tentang penghentian sementara layanan penerbangan Jember – Surabaya tersebut.



“Tadi malam suratnya, karena pertimbangan tertentu, juga terkait sepinya penumpang,” kata Edi, Rabu (21/10).



Wings Air merupakan satu-satunya maskapai yang melayani penerbangan komersial Jember – Surabaya PP. Wings Air melayani penerbangan dengan pasawat jenis  ATR 72-600.



Selama ini, Wings Air mengangkasa Jember – Surabaya PP tiga kali kali dalam seminggu. Yakni pada hari Rabu, Jumat dan Minggu.



Menanggapi penghentian penerbangan, Edi mengaku akan berkirim surat ke Wings Air agar tetap ada penerbangan meski durasinya dikurangi. Dia berharap Wings Air tetap terbang meski hanya sekali dalam seminggu.



“Kami tidak tinggal diam, kami berupaya juga berkirim surat ke kantor pusat Wings Air, setidaknya dalam satu minggu ada sekali penerbangan. Agar bandara ini tidak sepi,” ujarnya.



“Kan di Jember ini tinggal satu maskapai penerbangan. Dulu yang Garuda itu sudah tidak ada. Kini tinggal satu (Wings Air). Ya kita tetap berupaya agar tidak berhenti lama,” tambah Edi.



Sementara Manager Area Maskapai Wings Air Ricco Permana Hadi enggan memberikan komentar banyak terkait tidak beroperasinya pesawat dari perusahaannya itu. Rico hanya memberikan jawaban singkat, intinya mematuhi kebijakan dari kantor pusat.



“Maaf saya tidak bisa komentar banyak, karena kebijakan tidak terbang itu dari pusat. Mungkin bisa langsung dikonfirmasi ke kantor pusat,” ucapnya.



Edi Purnomo mengakui sepinya penumpang tersebut. Menurut Edi, dalam sekali penerbangan, penumpang berkisar 2 sampai 5 orang.


“Yang (berangkat) dari Jember itu hanya satu atau dua calon penumpang. Paling banyak lima orang. Sementara yang dari Surabaya masih nol atau sama sekali tidak ada,” kata Edi.


Sepinya penumpang itu, kata Edi, karena para calon penumpang dari Jember kebanyakan tujuannya ke Jakarta. Sementara di Jakarta sendiri ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


“Kan berangkat dari Jember terus transit ke Surabaya untuk kemudian lanjut ke Jakarta. Lah sementara ini Jakarta juga masih PSBB,” ungkapnya.


Ditambah lagi aturan bagi calon penumpang untuk melakukan rapid test. Yang hal itu dinilai memberatkan. Bukan soal biayanya. Tapi prosedur yang dinilai ribet.


“Tapi lebih kepada ribetnya syarat yang harus dilakukan calon penumpang. Bahkan soal rapid test ini pernah kami utarakan kepada Kementeriaan Perhubungan, kan infonya akan dihapus aturan itu. Tapi bagaimana lagi, kita hanya bisa ikut aturan,” tukasnya.


“Sehingga masyarakat lebih memilih lewat jalur darat dengan naik kendaraan pribadi. Kan tidak ada syarat rapid itu (untuk ke luar kota),” tambah Edi.

TerPopuler