Warga Tegalwangi Tuntut Pabrik Pengolahan Kayu Ditutup

Warga Tegalwangi Tuntut Pabrik Pengolahan Kayu Ditutup

Kamis, Agustus 27, 2020

Jember, kabarejember.com 

 -  Aktifitas pabrik pengolahan kayu UD Hoky 88 milik Chrina Soeparman yang berada di dusun Jatilawang  RT.01 RW.04 Desa Tegalwangi Kecamatan Umbulsari dinilai warga sekitarnya sangat mengganggu kenyamanan. 

Pasalnya, suara bising dan polusi udara yang berasal dari pabrik sangat mengganggu proses belajar mengajar maupun ibadah. Warga menuntut pabrik penggergajian kayu tersebut segera ditutup.


Ketua Takmir Masjid  Drs K.H. Moch Ismail, kepada kabarejember.com pada hari Selasa (25/08) mengatakan keberadaan pabrik itu telah mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) di TPQ, MI, dan Diniyah yang berada di areal masjid Baitullah. Sedangkan jarak masjid dan lokasi sekolah hanya  berjarak sekitar 100 meter dari pabrik. 


Selain itu limbah pabrik berupa debu kayu halus dan suara bising juga mengganggu kenyamanan beribadah di masjid Baitullah. Debu yang ditimbulkan mengakibatkan lantai masjid kotor berdebu. "Bagaimana bisa tenang belajar dan beribadah kalo lingkungan tidak nyaman akibat polusi udara maupun polusi suara."katanya.


Masih menurut Ismail, pemilik pabrik  penggilingan kayu telah melanggar surat pernyataan  yang ditandatangani sendiri oleh Chrisna Soeparman di atas meterai, selaku pemilik pabrik. Penanda tanganan surat pernyataan  tertanggal 30 Juni 2020 tersebut disaksikan Kepala Desa Tegalwangi, Andi Budi Wibowo, dan Ketua BPD Tegalwangi, Solihun.  


Salah satu isi dalam surat pernyataan tersebut berisi pemilik usaha berjanji akan meminimalisir kebisingan yang ditimbulkan mesin penggilingan dan meminimalisir polusi udara dalam waktu maksimal 1 (satu) bulan setelah penandatanganan surat pernyataan.

"Pemilik pabrik telah melanggar kesepakatan. Sampai hari ini suara bising yang ditimbulkan masih tetap seperti semula. Karena itulah, pada tanggal 24 Agustus 2020, takmir masjid Baitullah, bersama beberapa guru dan wali murid, melayangkan surat kepada Kepala Desa Tegalwangi untuk menindaklanjuti permasalahan ini secepatnya."pungkasnya.

Hal senada disampaikan pengurus Madrasah Diniyah Baitulloh, H Mohammad Alfa yang lokasi rumahnya tepat di samping lokasi pabrik,  mengatakan bahwa sudah sekitar 3 tahun, kebisingan yang ditimbulkan sudah di atas ambang kewajaran yang dapat mengganggu kesehatan telinga. Selain suara bising yang memekakkan telinga, getaran mesin sangat kuat sampai lantai rumah dan tokonya terasa bergetar.

Menurut Alfa, sudah beberapa kali dirinya mendatangi pabrik dengan maksud agar berupaya mengurangi suara bising, namun pemilik malah mentang-mentang dan melakukan intimidasi.  "Saya juga sudah mengadukan kepada kepala desa terdahulu maupun kepala desa yang sekarang (Andi Budi Wibowo), tetapi tidak pernah kejelasan tidak lanjutnya, sepertinya kepala desa berpihak kepada pengusaha."katanya. 


"Bahkan saya pernah mengadukan permasalahan ini ke Camat dan Dinas Lingkungan Kab. Jember untuk menanyakan surat analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Selanjutnya saya disarankan ke Pol PP dan Pemerintah Desa, tetapi sesampai di kepala desa cuma mendapatkan janji untuk diselesaikan."kata H. Alfa.


Hal yang terpenting adalah terganggunya pendidikan, karena suara bising mengganggu guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. "Pihak pemdes Tegalwangi lebih mengutamakan pendidikan demi masa depan anak-anak atau lebih mengutamakan pengusaha,"ucapnya.

Seorang Wali Murid, Gatot Sutiyono, menceritakan bahwa  proses belajar mengajar sempat terhenti selama seminggu, karena guru dan murid merasa terganggu. Tetapi  akhirnya kegiatan belajar mengajar dapat dilanjutkan kembali atas permintaan wali murid.

“Permasalahan terkait pabrik pengolahan kayu ini sudah lama. Sudah beberapa kali warga berupaya meminta keadilan, tetapi selalu menemui jalan buntu. Kepala desa yang terdahulu maupun kepala desa Tegalwangi yang sekarang, Andi Budi Wibowo dirasakan lebih berpihak kepada pengusahanya,” kata Gatot..“Kami selaku warga Jatilawang  menghendaki agar aktivitas usaha ditutup, jika tetap  tidak dihiraukan maka kami akan tetap berupaya, kalau perlu akan gelar demo,” tandasnya.

Sementara kepala desa Tegalwangi, Andi Budi Wibowo, sampai berita ini ditulis, Rabu (26/08) belum dapat dikonfirmasi. Kabarejember.com mencoba menghubungi selularnya, tetapi tidak aktif. (heri)


TerPopuler