Cegah Anak Pakai Motor Sembarangan, Bisa Pasang Alat Ciptaan Siswa SMP Ini

Cegah Anak Pakai Motor Sembarangan, Bisa Pasang Alat Ciptaan Siswa SMP Ini

Selasa, Januari 21, 2020
Ponorogo – Tiga siswa SMP Negeri 1 Jetis, Kabupaten Ponorogo, berhasil membuat alat pengaman sepeda motor berbasis KTP elektronik. Ke depan juga akan disesuaikan dengan penggunaan SIM elektronik sebagai media perantara dalam perangkat pengaman tersebut.

Para siswa tersebut antara lain Andiyan Rahman Hafid, Vanky Agrinda Tama, dan Maulana Bintang Pratama. Ketiganya masih berusia 14 tahun dan duduk di kelas VIII SMP.

“Idenya berawal dari banyaknya kecemasan orang tua yang tidak bisa mengontrol anaknya mengendarai kendaraan bermotor,” kata Andiyan, Sabtu, 18 Januari 2020.

Dia menerangkan jika alat yang dibuatnya bersama kedua temannya itu masih dalam bentuk prototipe dan belum terpasang pada sepeda motor. Dia masih mempraktikannya dalam perangkat sederhana pada sebuah papan yang berisi rangkaian elektronik.

[caption id="attachment_4970" align="alignleft" width="300"] Maulana, Vankya, dan Andiyan meraih medali emas dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) atau yang dulu dikenal Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) yang diadakan Kemendikbud, 26-30 November 2019. Foto; Dok. SMPN 1 Jetis[/caption]

“(Komponen) Paling utama adalah sensor RFID dan mikrokontroller Arduino Nano,” kata Andiyan.

RFID singkatan dari Radio Frequency Identification atau pengenal frekuensi radio yakni sebuah metode identifikasi dengan menggunakan sarana yang disebut label RFID atau transponder untuk menyimpan dan mengambil data jarak jauh.

Sedangkan Arduino Nano adalah salah satu papan pengembangan mikrokontroler (pengontrol) yang berukuran kecil, lengkap, dan mendukung penggunaan breadboard.  Breadboard adalah board (papan) yang digunakan untuk membuat rangkaian elektronik sementara dengan tujuan uji coba atau prototipe tanpa harus menyolder.

Andiyan menuturkan pada motor yang telah terpasang alat pengaman tersebut tidak akan bisa dinyalakan jika sensor RFID tidak mendeteksi chip dalam KTP yang telah didaftarkan sebelumnya melalui bahasa pemrogaman ke dalam perangkat pengaman tersebut. Dengan kata lain, jika tidak menggunakan atau menempelkan KTP elektronik pada perangkat yang dipasang, maka mesin motor tidak bisa dinyalakan.

Sambil mempraktikkan alatnya, Andiyan memutar kunci kontak tanpa menempelkan KTP yang sudah didaftarkan sehingga motor listrik tidak bisa menyala. Percobaan kedua, kunci kontak dinyalakan dan KTP ditempelkan pada perangkat yang sudah terpasang sehingga motor dapat menyala.

“Pengendara harus menempelkan KTP untuk menyalakan motor,” tuturnya.

Meski kaya para siswa SMP ini berhasil menyabet juara 1 pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) SMP tingkat Nasional, Andiyan bersama teman-temannya sempat kesulitan dalam membuat bahasa pemrogaman untuk alat pengaman tersebut.

“Lama penelitian alat ini sampai delapan bulan,” ujarnya.

Meski begitu, biaya untuk membuat satu unit alat pengaman ini sangat terjangkau. Ia mengaku hanya menghabiskan biaya Rp216 ribu untuk keseluruhan perangkat elektroniknya.

Sementara itu, guru pembimbing ketiga siswa ini, Sujatmiko, menjelaskan jika prinsip kerja alat pengaman tersebut adalah memutus arus dari koil sepeda motor sehingga tidak akan mengubah sistem kelistrikan motor.

“Dalam rangkaiannya ada relay yang memutus arus dari koil menuju busi motor,” ujar guru komputer dan pembimbing Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMP Negeri 1 Jetis ini. (*)

Sumber: https://jatimnet.com/cegah-anak-pakai-motor-siswa-smp-di-ponorogo-ciptakan-pendeteksi-ktp-untuk-menyalakan-motor

TerPopuler