• Jelajahi

    Copyright © 2015-Bedadung
    Bedadung

    Iklan

    Opini

    Tim Pengendali Inflasi Jatim Pantau Harga Menjelang Akhir Tahun, Ini Hasilnya

    Minggu, Desember 22, 2019 WIB Last Updated 2021-12-02T01:45:56Z
    idealoka.com (Kediri) – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Timur yang dipimpin Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur Drajat Irawan melakukan pemantauan dan pengawasan harga pangan di sejumlah pasar tradisional di Kota Kediri menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

    Pengawasan dan pemantaun ini sebagai tindak lanjut surat edaran Gubernur Jawa Timur agar kabupaten/kota melakukan upaya stabilisasi harga komoditas pangan bersama Pemprov Jawa Timur.

    "Sebenarnya harga komoditas di seluruh kota dan kabupaten sudah dipantau melalui aplikasi Sistem Informasi Ketersediaan dan Harga Bahan Pokok. Aplikasi ini menggunakan 200 pencacah data pada 116 pasar di Jawa Timur," kata Drajat, Minggu, 22 Desember 2019.

    Pemantaun dan pengawasan di sejumlah pasar tradisional di Kota Kediri ini sebagai cek ulang untuk mengetahui perbedaan harga di setiap daerah. Kota Kediri salah satu dari delapan derah yang diamati datanya lebih khusus.

    "Kami mengapresiasi TPID Kota Kediri dan Pemerintah Kota Kediri atas upaya stabilisasi harga menjelang hari besar keagamaan ataupun tahun baru dengan melalukan operasi pasar mandiri. Langkah pemkot sudah betul," katanya.

    Menurut Drajat, hasil pemantauan dan pengawasan harga komoditas pangan secara umum di Jawa Timur cukup stabil dan sesuai Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting dan Peraturan Menteri Perdagangan.

    Harga beras, tepung, minyak goreng, dan gula sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). “Hanya bawang merah yang bervariasi. Namun rata-rata harga masih relatif stabil. Bahkan harga telur ada yang turun," katanya.

    Dari sidak yang dilakukan di Pasar Pahing dan Pasar Setono Betek, tim menemukan harga berbeda namun perbedaannya tak signifikan.

    "Pedagang telur di Pasar Pahing menjual dengan harga Rp22 ribu. Di Pasar Setono Betek Rp23-24 ribu. Memang ada perbedaan saat mengambil langsung dari peternak dan melalui pengepul. Jadi, harga juga berpengaruh,” katanya.

    Drajat menambahkan persaingan harga memang dinamis, tapi pada prinsipnya bisa dikatakan masih di bawah harga eceran . "Saya kira perlu dipertahankan,” katanya. (*)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Iklan

    Wisata

    +

    Iklan